NEWS UPDATE :

Berita


Ruhiah

Ammah

Tampilkan postingan dengan label DKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DKI. Tampilkan semua postingan

Yang tak terliput dari Pak Dayat

Rabu, 28 Maret 2012

Siang yang terik tak mengurangi antusiasme warga Pleret Bantul berkumpul di lapangan Pleret. Duka akibat gonjangan gempa dua pekan lalu yang menewaskan ribuan orang juga belum hilang. Apa yang membuat mereka begitu antusias mendatangi lapangan?

Hari ini, ada tamu istimewa yang hadir ke desa mereka di Pleret Bantul. Tamu itu adalah Hidayat Nur Wahid, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pak Dayat, begitu beliau dipanggil akan berkunjung ke desa yang terkena dampak gempa sangat parah di Jogya sekaligus peletakan batu pertama pembangunan rumah bantuan dari donatur. Masyarakat begitu merindukan kehadiran pejabat negara yang memang juga berasal dari daerah yang dekat dengan lokasi mereka. Menurut berita, Pak Dayat keluarga Pak Dayat di Klaten juga terkena musibah gempa.

Siang makin terik, masyarakat tak juga melihat ada tanda-tanda seorang pejabat negara datang. Tiba-tiba saja, bunyi mikrophone dari tengah lapangan berbunyi.

“Yang Terhormat, Ketua MPR, Bapak Hidayat Nur Wahid selamat datang di desa kami.”

Suara pembawa acara sudah bergema sampai terdengat sekitar 25 m dari tempat acara yang berada di tengah lapangan.

“Loh, sudah datang, toh. Kapan datangnya?”

“Sudah lima belas menit lalu, Pak” saya menimpali pertanyaan seorang bapak tua yang dari tadi menunggu kedatangan Ketua MPR itu.

“Loh, biasanya ada sirine dan banyak polisi toh. Lah, ini seperti tidak ada apa-apa.”

Bapak tua itu heran karena biasanya selalu ada kehebohan kendaraan pengawal dan rombongan pejabat lainnya yang mengiringi. Ternyata Pak Dayat menaiki mobil biasa tanpa pengawalan. Bahkan Camat Pleret sampai tergopoh-gopoh mengejar Pak Dayat karena keduluan ketua MPR datangnya.

Acara diadakan di tengah lapangan. Para pejabat disediakan kursi empuk sementara warga hanya duduk lesehan beralaskan tikar. Ketika giliran Pak Dayat member sambutan, beliau kemudian turun dari kursinya dan duduk lesehan.

“Maaf bapak Ibu, bukannya saya tidak menghargai, supaya kita lebih dekat. Saya duduk nggih.” Begitulah perkataan yang saya tangkap dari obrolan beliau dengan warga dalam bahasa jawa yang sangat halus. Akhirnya pejabat dan tokoh masyarakat yang mendampingi Pak Dayat ikut lesehan. Jadilah kursi empuk yang disediakan panitia jadi kosong melompong.

Saya kagum dengan sikap sederhana beliau. Datang tidak mau merepotkan dan ketika diberi fasilitas beliau memilih fasilitas yang sama dengan warga.

Setelah acara peletakan batu pertama pembangunan rumah bantuan untuk korban gempa yang difasilitasi oleh Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Pak Dayat dikerumuni oleh warga untuk bersalaman. Beliau menyambut uluran tangan warga dengan senyum sambil menyempatkan berbincang walau sejenak.

“Assalamu’alaikum, Pak Dayat.” Saya memberanikan diri menyapa beliau.

“Wa’alaikum salam. Apa Kabar Mas. Terima kasih ya sudah bantu.”

Terkesiap saya menerima uluran tangan dan kata-kata yang indah ini. Kata-kata beliau memberi energi baru bagi saya untuk menjalani tugas kemanusiaan sebagai relawan di Jogja saat itu, Juni 2006. Keletihan saya selama sepekan mendadak sirna oleh sapaan hangat dan rendah hati dari seorang pejabat tinggi negara.

Saya menjadi saksi atas pengakuan banyak orang tentang kesederhanaan dan kerendahan hati Dr. Hidayat Nur Wahid yang saat ini mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur Jakarta. Warga Jakarta kini memiliki banyak pilihan untuk mengangkat pemimpin daerahnya dan Hidayat Nur Wahid memberikan pilihan bagi warga yang ingin pemimpin berkarakter sederhana, rendah hati serta dekat dengan rakyat.


Achmad Siddik | @achmadsiddik
Relawan Gempa Jogja | Perawat Komunitas Pohon Inspirasi


*http://politik.kompasiana.com/2012/03/22/kisah-yang-tak-terliput-dari-hidayat-nur-wahid/

Wawancara Hidayat Nur Wahid: "Tidak ada istilah 'turun pangkat' dalam pengabdian"

Nama Hidayat Nur Wahid mengejutkan setiap orang pada akhir masa pendafaran bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta pada Senin (19/3).
Mantan Ketua MPR itu didaftarkan Partai Keadilan Sejahtera bersama Didik J Rachbini sebagai pendampingnya.

Banyak kalangan yang menganggap keputusan Hidayat tersebut konyol. Apalagi terkait pencitraan terhadap dirinya yang turun tangga dari Ketua MPR menjadi calon gubernur.

Berikut petikan wawancara singkat bersama Hidayat Nur Wahid perihal pencalonannya tersebut.


Bagaimana ceritanya bapak tahu-tahu dicalonkan sebagai gubernur, sedangkan selama ini bapak tidak pernah tampil atau digadang-gadangkan namanya oleh PKS?

Saya sendiri juga terkejut sebenarnya. Saya berkali-kali bilang kepada teman-teman pers dan siapa saja yang bertanya langsung tentang hal ini. Saya tidak pernah mencalonkan diri.

Malah saya itu sampai hari terakhir pendaftaran pekan lalu masih berusaha keras mendorong Triwisaksana untuk maju dan mencarikan wakilnya. Tahu-tahu musyawarah justru mencalonkan saya.


Bagaimana dengan banyak pernyataaan bapak seolah-olah tengah menurunkan citra sendiri, dari Ketua MPR kemudian pernah juga dicalonkan sebagai Presiden kok sekarang malah mengincar DKI 1?

Sekali lagi saya tegaskan saya tidak pernah mencalonkan diri, melainkan diajukan partai. Bagi saya tidak ada istilah turun gunung, karena mengabdi itu bisa di mana saja dengan profesi apa pun.

Titel, jabatan itu sama sekali tidak mempengaruhi fungsi pengabdian. Kami terbiasa dengan budaya ini. Jadi tidak ada istilah 'turun gunung' (turun pangkat) dalam pengabdian. Mengabdi ya mengabdi saja.


Terkait dengan isu pluralisme yang selama ini melekat dalam diri anda, apakah anda tidak merasa hal itu akan menjadi penghambat jalan anda menuju DKI 1?

Justru menurut saya hal itu malah akan menjadi pemulus langkah saya. Saya ini seorang pluralis sesuai dengan karakter Jakarta yang lekat dengan perbedaan.***


*http://kabarpolitik.com/2012/03/25/wawancara-hidayat-nur-wahid/

60 Ribu Kader PKS Bergerilya di Jakarta Menangkan Hidayat-Didik

Senin, 26 Maret 2012


Jakarta PKS mengerahkan kekuatan penuh untuk pasangan Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini di Pilkada DKI. Seluruh kader PKS yang ada di Jakarta akan bergerak memenangkan Hidayat-Didik.

"Jumlah kader di DKI mendekati angka 60 ribu. Semuanya kader militan komitmen untuk memenangkan pasangan Hidayat-Didik," jelas juru bicara PKS Mardani Ali Sera saat berbincang, Sabtu (24/3/2012).

Selain mengerahkan puluhan ribu kader militan, strategi lainnya yakni melakukan pendekatan ke masyarakat DKI.

"Kita punya kelebihan pasangan Hidayat-Didik ini kepemimpinan tegas pada figur Dr Dayat dan penguasaan strategi pembangunan ekonomi Jakarta pada figur Pak Didik," jelasnya.

Mardani pun menatap optimis Pilkada DKI. Namun dia pun tidak memandang remeh kandidat yang lain.

"Semua lawan berat. Semua punya program dan kekhasan untuk ditawarkan," jelasnya.

Sejumlah pasangan dari baik dari parpol dan jalur independen akan bertarung di Pilkada DKI Juli mendatang. Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli diusung PD, PAN, PKB, Hanura.

Alex Noerdin-Nono Sampono diusung Golkar, PPP, dan PDS. Jokowi-Ahok diusung Gerindra dan PDIP.

Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini diusung PKS. Faisal Basri dan Biem Benyamin serta Hendardji Soepandji- A Mirza dari jalur independen.
Sumber : Detik.com
 
© Copyright PKS 3 2012 | Design by PKS TEMPLATE | Powered by Blogger.com.